Perempuan di Bawah Temaram Bintang

Sekian lama mereka telah dipisahkan oleh waktu. Telah dipisahkan oleh peristiwa yang harus membenci kaum lelaki yang pernah menghancurkan keadaannya, mengahancurkan masa depannya. Sampai ia yang bernama Besse telah menjadikan rumahnya adalah losmen, emperan toko dan berpindah dari pelukan laki yang satu kelaki-laki yang lain. Keluarganya yang dulu dipujanya kini tak beraarti lagi sebagai gelar kebangsawanan yang terus ia banggakan sedia kala. Bahkan keluarganya pernah berucap ketika ia berterus terang kapada ayahanda yang dikasihininya “kau bukanlah lagi darah bangsawan yang harus kuakui, yang telah gagal menjaga kehormatan keluarga, bahkan menjual kehormatan sendiri yang engkau miliki”.
“Tidakkah ayahku sadar bahwa keadaanku sekarang adalah korban dari zaman yang edan, zaman kemenangan “syahwat”, zaman dimana semua orang telah mempertuhankan “eros”.
“Ah… sudah sia-sia aku terus terngiang dan mengingat keluargaku. Bukan kah mereka tidak mengakuiku lagi. Ayahku boleh saja mempersalahkanku.”
Tapi tidak salah setiap hari jua aku selalu ditiduri oleh lelaki. Konon ia menjadi orang tua yang dibanggakan dipihak keluarga. Bahkan namanya sebagai seorang wali kota jikalau orang lewat dihadapannya orang akan tertunduk-tunduk sampai sehina-dina mungkin.
Ayahku tidak tau, bahwa ia adalah seorang lelaki yang jika aku ingin berterus terang maka sudah lama, mungkin akan terdengar dari kampong halamanku bahwa ibu sudah menceraikannya. Aku memang seoarang pelacur, penjaja seks. Tapi tidak tegah ibu menderita sakit, atau merasa dihianati oleh seperti diriku. Lelaki yang pernah merangkai sebaiat kata yang menghilangkan kebesaran jiwaku. Kebesaran namaku di hadapan Tuhan. Adalah tidak lebih seperti ayahku, bedanya Cuma “sedikit”. Ia telah membina rumah tangga dan menghasilkan keturunan. Tapi aku dilarang melahirkan anakku. Walau aku berterus terang saya mencintai anakku itu.
“payahlah engkau mencintainya , ia tidak punya ayah”
Aku terpaksa menggugurkan anakku.
Dalam temaram bintang dan keremangan jalan di Nusantara Besse, ia seseringkali melihat keramaian dan kegaduhan kota Makassar. Kalau orang menyebutnya “Nusantara” maka taka asing lagi dunia apa yang bicara di sana. Padahal ada dunia bagian dari kemiskinan, bagian dunia dari orang yang berjuang sesuap nasi untuk anak dan bayinya esok pagi, bagian dari dunia anak-anak merebut rasa iba dari para penajamu malam untuk membiayai hidup dan sekolahnya.
Terlebih lagi dunia besse adalah dunia, yang tak jauh beda dengan mereka. Dunia yang menawarkan kecantikan, menawarkan hasrat, dan menawarkan kepuasan. Esok akan lagi dilupakan oleh lelaki yang menjadi teman tidurnya dalam tiap hening malam.
Ia tak punya harapan dan masa depan lagi. Sekian bulan dan telah tidak terhitung lagi sudah berapa semester ia tidak masuk kuliah di fakultas psikologi. Nada dering SMS yang tak pernah berhenti memejamkan ingatannya dari bangku kuliah “besse kau kemana, sekian tak pernah muncul di kampus” Yudi mencarimu. Dianggap nya sms itu tipuan untuknya, tipuan untuk tetap mengingat masa lalunya. Dan mana mungkin seorang yudi mencariku, jikalau ia dulu tidak bertanggung jawab dari rajutan cinta kita berdua yang telah menipuku. Adalah jauh lebih penting membalas SMS yang ingin menemaninya menghabiskan malam, berdandan rapi dan tampil sefeminim mungkin yang akan membuat para lelaki yang melintas di depannya akan tergoda, walau kadang besse tak mengenal lagi sekian wajah lelaki yang telah ia puaskan hasratnya.
“Tugasku malam ini adalah mencari seorang lelaki yang akan membuatku melupakan yudi, melupakan keluarga saya, melupakan janin yang telah aku korbankan dari seorang dukun, bahkan melupakan mereka semuanya.”
Laki-laki lebih tepat untuk disebut sebagai candu, sekaligus ekstasi bagi seorang perempuan yang telah memabukkan mereka. Mangganti lembaran kertas rupiah, sebagai balas jasa atas makna cinta yang telah diberikan dalam satu malam.
Di bawah emperan toko dalam temaram bintang dan kedipan bintang yang mewarnai dan menerangi paras wajah Besse yang ayu semakin menambah keremangan malam itu. Dandanan yang sedikit aneh dari malam biasanya, baju blues hitam yang dipadukan dengan rok hitam, Besse tampil beda dengan yang lainnya. Teman-temannya yang terlalu norak menampakan bagian selangka pahanya. Ia tidak menjamin untuk itu. Baginya laki-laki lebih suka perempuan yang tampil tertutup. Dengan kelihatan rapi dan feminim, tertutup semuanya. Akan lebih penasaran mencari “imajinasi’ dalam pengalaman ekstasi yang menggairahkan.

Besse tidak pernah ingin membuat dirinya hina dibanding teman-temannya, memanggil-manggil lelaki yang berduit, setiap ada mobil mewah yang melintas di jalan Nusantara. Memang ia tidak mencari uang untuk dirinya. Juga tidak ingin mencari kepuasan dari keperkasaan sang lelaki.

Hanya dia ingin membuat laki-laki itu tidak berdaya di hadapannya. Hanya menjadikan dunia PSK sebagai jalan untuk membuat dirinya tidak putus asa dan mencari orang yang akan masih memberinya kasih sayang untuknya. Sudah cukuplah jika dalam satu malamnya ada lelaki yang membisikkan kata “aku mencintaimu, engkau begitu cantik” . walau manamungkin lelaki itu jatuh cinta kepada seorang pelacur. Seseringkali ia membayangkan yudi membisikkan kata-kata itu. Setiap kali diperdengarkan oleh lelaki lain. Bahkan ketika ia mendapat kecupan bibir dari lelaki yang menjadi teman malamnya. Ia selalu membayangkan yudi yang melakukakannya. Ia memejamkan mata dan seseringkali menikmati peristiwa itu beberapa kali dengan mata yang terpejam.
Besse, tetap masih di bawah temaram dan kedipan bintang di jalan Nusantara, menanti penjaja seks malam itu. Dalam sepinya rongga waktu ia menahan duka dan kesemuan bayang asmara masa lalunya. Dalam emperan yang remang-remang, tampil seorang lelaki yang lebih tua darinya mencoba menggodanya.
Saat lelaki itu, turun dari mobilnya, Besse sekali lagi tidak menawarinya. Hanya ditatapnya bahwa ternyata mobil itu memakai plat merah. Soal siapa dia itu bukan urusannya. Lelaki itulah yang bertanya kemudian. “Apa betul anda ini adalah seorang PSK, yang sudi bercinta dengan seorang lelaki sepertiku.”
Tanpa tersadarkan, dalam kelemahan besse terkulai dan hanya membiarkan dirinya ditarik dan dibawah oleh lelaki paruh baya itu. Ia berkendaraan bersamanya. Tanpa sekalipun ia tidak pernah berucap, “kita hendak kemana”. Baginya ia percaya dan mengerti bahwa lelaki semua memiliki keinginan yang sama jikalau perempuan bersamanya.
“kita kemana sekarang”. Sekali lagi besse tidak menjawab pertanyaan lealki paruh baya. Ia terus membuat lelaki paruh baya didekatnya itu terus kebingungan. Apa ia hendak membawa seorang perempuan yang menderita psikopat. Apakah perempuan ini adalah perempuan yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
Tapi ia tidak pernah menolak sekalipun apa yang diinginkan oleh lelaki itu, bahkan ketika lelaki memberikan kecupan kepadanya, meraba seluruh belahan tubuhnya. walau terasa sebagai permainan cinta para lelaki binal.

Tanpa terasa malam hampir pergi, di bawah temaram bintang lelaki itu telah menyandarkan tubuh Besse, di sebuah losmen. Ia tidak mengerti, lelaki paruh baya itu terus terheran, betapa polosnya perempuan ini dan terlalu lama ia menahan beban penderitaan.
Ia mengusap muka Besse, kadang ia merasa kasihan melihatnya. Tapi rasa iba selalu saja dikalahkan oleh nafsu setannya. Ia ingin sekali menghisap seluruh candu dan ekstasi. Dalam kelemahan seorang perempuan.
Dalam kedinginan malam, dan temaram bintang. Seberkas cahaya rembulan menusuk dan menampakan nuansa remang-remang di sebuah losmen. Besse masih tertidur.
Besse tidak bisa lagi terus berdiam. Ia bangut kaget. Disisinya lelaki paruh baya itu meneteskan air mata. Tangisan itu itu terasa tidak asing baginya. Ia pernah berkali-kali mendengar di masa lalunya. “bapak ini kenapa” Tanya besse. “Jangan panggil aku sebagai bapak, karena aku ini adalah ayahmu yang telah mengusirmu aku baru tersadarkan ketika tasmu itu kuperiksa, aku mendapati foto engkau bersama ibumu.”
Waktu yang membuat mereka, tidak pernah ketemu. Sehingga seorang anaknyapun ia telah gauli. Diantara mereka memang tidak ada yang saling mengenal sebelumya. Ia hanya tersadarkan alangkah diantara mereka cepat berubah. Diantara lembaran rupiah telah menyulap seluruh kehidupannya. Besse untuk berdandan tidak sulit, ia selalu memiliki lembaran rupiah. Apalagi ayahnya yang telah menjadi seoarang aggota DPRD, Andi Rajagoe adalah orang ternama yang selalu tampil di media.
Lelaki paruh baya tersebut alias andi Rajagoe. Sebelumnya ia tidak pernah merasa berdosa. Anaknyalah yang telah digauli sehingga ia selalu menyalahkan dirinya.
Nampaknya diantara kebejatan dan kelupaan seorang kepada “dosa” sesekali akan membuat seorang tersadarkan dan memahami dirinya.
Diantara mereka bertekad. Menyimpan semua rahasia itu. Besse kembali ingin menatap masa depannya. Mengakhiri dunia PSK. Dan mencari tempat kuliah diluar sulawesi yang tidak pernah di datangi ayahnya Ia tidak inigin menyebarkan aib ayahnya, apalagi akan diketahui kelak ibunya yang sudah tua di kampung. Ia membiarkan keadaan itu terus berjalan. Terlebih ayahnya ia telah tersadarkan tidak berani lagi menjajaki dunia kelam, dan mencari kepuasan dari wanita yang satu kewanita yang lain.
Malam kemarin telah tiada, besse telah melupakan kejadian itu. Ia berjalan di lintasan nusantara, berucap pamit kepada teman-temannya, “kita mungkin tidak ketemu lagi dalam dunia kita yang sama.
Kepergiannya ia terus terkenang Di atas pesawat ia menatap lembaran baru dalam hidupnya, seakaan hari ini kembali ia terlahirkan. Sengatan matahari diatas langit-langit itu seakan menorehkan kehidupannya. “oh mas Yudi ya…….., ini isterinya, juga anaknya” ternyata ia duduk berdekatan dengan orang yang pernah mencintainya, tapi ia melupakan sifat buruk yudi. Dimintanya bayi yang digendong oleh isteri yudi, lantas ia memberikan kecupan manis kepada anak itu. Yudipun dan isterinya sama-sama tersenyum melihat perilaku Besse.

Tamalanrea, Desember 2009                                                                                              

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ana Erfina

istri ku yang tercinta

Olives' Diary

“Menulis dapat menghilangkan rasa sesak di dada. Pindah ke Pluto mampu menghilangkan semua rasa sesak di Bumi. Terus menulis sampai pesawat menuju Pluto itu datang”

Just Writing

sesuatu yang pakai hati pasti akan sampai ke hati..

KANDAS TANPA BEKAS

Syair dan Puisi Karya Bimo Syackti

Tanda Cinta Kita

Kartini Bt Lukman

AHAO's Blog

Hal Kecil dan Terabaikan Bisa Dibikin Jadi Penting :-)

Kasihilah Makhluk Yang di Bumi, Niscaya Allah Yang Berada Di Atas langit Akan Mengasihimu

Kasihilah makhluk yang di bumi, semoga yang di langit mengasihimu

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

WO AI NI - ISLAM

Meniti jejak As-Salaf Ash-Shaleh

Erens's Blog

Cuma Berekspresi doang!

PENGERTIAN & ARTI

Just another WordPress.com site

%d blogger menyukai ini: